BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Kegagalan pasar dapat termasuk dalam suatu kategori
umum yang disebut eksternalitas. Memahami pengertian dari eksternalitas
merupakan hal yang penting, karena dengan mengetahui apa itu eksternalitas dan
dapat mengelompokkannya menjadi mana eksternalitas yang baik dan eksternalitas
yang buruk.
Dengan adanya eksternalitas, maka diperlukan solusi
swasta atau solusi dari warga masyarakat itu sendiri dalam menghadapi adanya
eksternalitas tersebut. Sehingga eksternalisasi ini memiliki tujuan yaitu
mendekatkan alokasi sumber daya kepada sosial.
Untuk menghadapi suatu eksternalitas, tidak hanya
warga masyarakat saja yang berperan penting dalam hal ini. Namun pemerintah
juga harus ikut andil dalam menghadapi masalah eksternalisasi tersebut. Missal
dengan mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan eksternalisasi tersebut.
2.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
definisi dan jenis-jenis dari eksternalisasi?
2.
Apa
faktor penyebab eksternalitas?
3.
Bagaimana
solusi swasta terhadap eksternalitas?
4.
Apa
kebijakan publik yang dapat di ambil dalam menghadapi eksternalitas?
3.
Tujuan
Pembahasan
1.
Mengetahui
pengertian serta jenis-jenis eksternalitas
2.
Dapat
memahami faktor-faktor yang menyebabkan eksternalitas
3.
Mengetahui
solusi swasta dalam mengahadapi eksternalitas
4.
Mengetahui
kebijakan public yang dapat dilakukan dalam menghadapi eksternalitas
BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi
Eksternalitas
Dalam buku teori mikro ekonomi edisi
kedua karangan Dominic Salvatore eksternalitas diartikan sebagai selisih antara
biaya perorangan dan biaya sosial atau antara keuntungan perorangan dan
keuntungan sosial.[1]
Dalam buku teori mikroekonomi edisi 5
karangan walter nicholson, disebutkan bahwa pengertian eksternalitas dan barang publik secara lebih terinci memiliki
dua maksud pertama,ingin memperlihatkan dengan jelas bagaimana adanya
eksternalitas dan barang publik dapat mendistorsi alokasi sumber daya dalam
melakukan hal tersebut beberapa ciri tambahan dari jenis informasi yang
diberikan oleh harga persaingan dan beberapa situasi yang dapat mengurangi
kegunaan informasi itu dapat diilustrasikan alasan kedua untuk melihat
eksternalitas dan barang publik dari dekat adalah untuk menyarankan cara-cara
dimana masalah alokasi yang dihasilkannya dapat diperingan. Eksternalitas
terjadi karena para pelaku ekonomi mempengaruhi pihak ketiga yang tidak
tercermin dalam transaksi pasar.eksternalitas terjadi setiap kali
kegiatan-kegiatan dari satu pelaku ekonomi mempengaruhi kegiatan-kegiatan
pelaku ekonomi lainnya dengan cara-cara yang tidak diperhitungkan oleh operasi
pasar.[2]
Dalam buku prinsiple economics edisi 3
karangan N.Gregory Mankiw,disebutkan bahwa pengertian eksternalitas yaitu
dampak-dampak tidak terkompensasi dari tindakan seseorang terhadap
kesejahteraan orang lain yang terlibat. Eksternalitas (externality) muncul
ketika seseorang terlibat dalam kegiatan mempengaruhi kesejahteraan orang
lainyang tidak membayar atau menerima kompensasi atas dampak tersebut. Jika dampaknya bagi orang baik
disebut Eksternalitas positif,
jika dampaknya buruk maka dinamakan Eksternalitas negatif. Ditengah keberdaan
eksternalitas kepentingan dalam suatu hasil pasar akan melampui kesejahteraan
pembeli dan penjual yang berpartisipasi dalam pasar dan kepentingan masyarakat
juga akan meliputi kesejahteraan orang-orang lain yang terkena dampak nya
secara tidak langsung. Eksternalitas hadir dalam beragam bentuk sebagaimana
juga kebijakan yang dibuat untuk mengatasi kegagalan pasarnya ,contohnya adalah
emisi gas buang dari kendaraan bermotor adalah eksternalitas negatif karena
menciptakan asap yang mau tak mau terhirup orang lain,bangunan-bangunan
bersejarah yang direnovasi dan dipelihara merupakan suatu eksternalitas positif
karena orang-orang yang mengunjungi atau melewatinya dapat menikmati keindahan
bangunan-bangunan tersebut.[3]
Eksternalitas adalah kerugian atau
keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi karena tindakan pelaku
ekonomi lain yang tidak tercermin dalam harga pasar. sedangkan efisiensi pasar
adalah suatu keadaan apabila suatu pasar sudah dapat mengalokasikan seluruh
sumber-sumber daya yang pada umumnya secara efisien.[4]
Eksternalitas
adalah biaya yang harus ditanggung atau manfaat tidak langsung yang diberikan
dari suatu pihak akibat aktivitas ekonomi. Eksternalitas sering disinggung
ketika muncul dampak negatif dari suatu aktivitas ekonomi. Contoh eksternalitas
yaitu pencemaran udara yang mengganggu kesehatan dan lingkungan dan semua itu
harus ditanggung oleh masyarakat sendiri. Contoh eksternalitas yang positif
yaitu individu yang alergi terhadap imunisasi diuntungkan oleh masyarakat yang
telah diimunisasi karena penyebaran penyakit tidak sampai ke individu tersebut.
Kredit karbon adalah salah satu mekanisme pembayaran atau mengambil keuntungan
dari faktor eksternalitas. Jika eksternalitas telah jelas terlihat, maka pelaku
aktivitas ekonomi dapat diberikan pilihan atau diwajibkan untuk membayar dampak
tersebut atau mengklaim keuntungan yang telah diberikannya melalui
undang-undang yang berlaku. Atau pelaku aktivitas ekonomi dapat mengubah produk
atau metode produksinya untuk meminimalisir dampak negatif eksternal.[5]
2. Jenis-jenis
Ekternalisasi
Dilihat dari dampaknya eksternalisasi dapat di bagi menjadi 2 yaitu;
a.
Eksternalitas positif
Eksternalitas positif yaitu dampak yang menguntungkan dari suatu
tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap orang lain tanpa adanya
konvensasi dari pihak yang di untungkan.
b.
Eksternalitas negatif
Eksternalitas
negatif yaitu dampak yang merugikan dari suatu tindakan yang dilakukan oleh
suatu pihak terhadap orang lain tanpa adanya konvensasi dari pihak yang
dirugikan.[6]
Eksternalitas
itu dapat terjadi dari empat interaksi ekonomi sebagai berikut:
a. Dampak suatu produsen terhadap produsen lain (effects
of producer on other produceres)
Suatu kegiatan produksi di katakan mempunyai dampak
eksternal terhadap produsen lain jika kegiatan nya itu mengakibatkan terjadinya
perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produksi lain.
Contoh: perusahaan yang menghasilkan limbah kealiran
sungai dan semacamnya, sehingga ikan terganggu dan merugikan produsen lain
yakni para nelayan.
b. Dampak produsen terhadap konsumen(effects of producer
on consumeres)
Suatu produsen di katakan mempunyai eksternal terhadap
konsumen, jika aktivitas nya merubah atau menggeser fungsi rumah tangga.
Contoh : polusi udara suatu perusahaan yang
mengakibatkan kepuasan konsumen terhadap pemanfatan daerah-daerah rekreasi
berkurang.
c. Dampak konsumen terhadap konsumen lain ( effects
of consumeres on consumeres)
Suatu dampak konsumen terhadap konsumen yang lain
terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau
mengganggu konsumen lain.
Contoh : asap rokok seseorang terhadapa orang yang ada
disekitarnya yang tidak meroko.
d. Dampak konsumen terhadap produsen ( effects of
consumeres on producer)
Suatu dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika
aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen.
Contoh: limbah rumah tangga yang mencemari aliran
sungai sehingga merugikan para nelayan.[7]
Dalam buku teori
mikroekonomi edisi 5 karangan walter nicholson, eksternalisasi di bagi menjadi berbagai jenis:
a. Eksternalitas
antar perusahaan
Untuk mengilustrasikan masalah eksternalitas dalam
bentuk yang paling sederhana,pertimbangkan dua perusahaan satu memproduksi X dan
lainnya memproduksi barang Y dimana perusahaan hanya menggunakan satu
masukan yaitu tenaga kerja .produksi barang Y dikatakan memiliki pengaruh
eksternal terhadap produksi X jika keluaran
X tidak hanya bergantung pada
jumlah tenaga kerja yang dipilih oleh perusahaan X
tetapi juga oleh tingkat dimana produksi
Y dilakukan secara notasi fungsi
produksi untuk barang X dapat ditulis
sebagai:
b. Eksternalitas
yang menguntungkan
Hubungan diantara kedua perusahaan dapat
menguntungkan sebagian contoh tentang eksternalitas positif seperti itu
berhubungan dengan pertanian kemungkinan contoh yang paling terkenal yng
diajukan oleh J.Meade melibatkan dua perusahaan satu memproduksi madu dan yang
lain memproduksi apel.dalam kasus persaingan sempurna yang biasa,kegiatan
produksi dari satu perusahaan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap
produksi perusahaan-perusahaan lain:
=0
c. Ekternalitas
dalam utilitas
Eksternalitas dapat juga terjadi jika
kegiatan-kegiatan dari seorang pelaku ekonomi secara langsung mempengaruhi
utilitas seorang individu.satu jenis dari eksternalitas utilitas yang relavan
dengan analisis pilihan sosial timbul ketika utilitas seorang individu bergantung secara lansung pada
utilitas orang lainnya jika misalnya smith memperdulikan kesejahteraan jones
kita dapat menulis fungsi utilitasnya (
sebagai:
Utilitas
=
d. Eksternalitas
barang publik
Barang-barang yang bersifat “publik” atau “kolektif”
memberikan ilustrasi spesifik tentang
jenis eleksternalitas yang akan menjadi analisis kita dalam paruh kedua bab
ini.karakteristik yang khas dari barang-barang ini adalah barang ini tidak
bersifat eksklusif yaitu setelah barang tersebut diproduksi (baik oleh
pemerintah oleh badan swasta tertentu)dan barang-barang tersebut memberikan
manfaat pada keseluruhan kelompok.[8]
3. Faktor
Penyebab Eksternalisasi
a. Keberadaan Barang Publik Karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi
umum. Keadaan seperti akhirnya cendrung mengakibatkan berkurangnya insentif
atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan
barang publik.[9] Kalaupun
ada kontribusi, maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan
barang publik yang efisien, karena masyarakat cendrung memberikan nilai
yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued).
b. Keberadaan
sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap
sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang
publik di atas. Sumber-sumber daya milik bersama, sama halnya
dengan barang-barang publik, tidak ekskludabel. Sumber-sumber daya ini
terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya, dan cuma-cuma. Namun
tidak seperti barang publik, sumber daya milik bersama memiliki sifat
bersaingan. Pemanfaatannya oleh seseorang, akan mengurangi peluang
bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jadi, keberadaan sumber
daya milik bersama ini, pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak
pemanfaatannya yang efisien. Contoh klasik tentang bagaimana
eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang
diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi
barang umum (the tragedy of the commons).
c. Ketidak Sempurnaan Pasar
Masalah
lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan didalam suatu tukar
manukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang
terjadi (outcome). Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak
sempurna (imperfect market) seperti pada kasus monopoli (penjual
tunggal).[10]
d. Kegagalan Pemerintah
Sumber
ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan
pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure). Kegagalan
pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau
kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi.
Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent
seeking) melalui proses politik, melalui kebijaksanaan dan sebagainya.
4. Solusi
Swasta terhadap Eksternalitas
Kita telah
menyimak bahwa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber
daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. Namun sejauh ini kita
baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas
tersebut. Dalam prakteknya, bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat
mengatasi eksternalitas itu, melainkan juga pihak-pihak nonpemerintah, baik itu
pribadi/kelompok maupun perusahaan/ organisasi kemasyarakatan. Untuk mudahnya,
kita sebut saja pihak-pihak nonpemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau
“swasta”. Pada dasarnya, tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun
pihak swasta (perorangan dan kelompok), berkenaan dengan penanggulangan
eksternalitas itu sama saja, yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar
mendekati kondisi yang optimum secara sosial. Pada bagian pembahasan berikut
kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pribadi
atau swasta (private solutions) dalam mengatasi persoalan eksternalitas.[11]
1.
Jenis-jenis Solusi Swasta
Inefisiensi
pasar akibat eksternalitas tidak perlu selalu harus atau bisa diatasi dengan
penegakan atau peningkatan standar moral, atau ancaman penerapan sanksi sosial.
Misalnya, mengapa orang-orang secara sadar tidak mau membuang sampah
sembarangan? Peraturan resmi yang mengatur tentang sampah memang ada, namun di
banyak tempat, peraturan semacam itu tidak dijalankan secara sungguh-sungguh.[12]
Kita tidak mau membuang sampah disembarang tempat juga bukan karena takut
dengan peraturan-peraturan semacam itu, namun karena kita mengetahui atau
menyadari bahwa tidaklah baik dan tidak patut sejak kita masih kanak-kanak,
bahwa kita boleh melakukan sesuatu moral inilah yang kemudian membatasi
perilaku dan tindakan kita, agar sedapat mungkin tidak merugikan orang lain.
Dalam bahasa ekonomi, ajaran agama itu meminta kita untuk melakukan
internalisasi eksternalitas.
Contoh lain
solusi swasta, adalah derma atau amal yang seringkali sengaja diorganisasikan
untuk mengatasi suatu eksternalitas. Contohnya adalah Sierra Club, sebuah
organisasi sosial swasta yang sengaja dibentuk untuk turut melestarikan
lingkungan hidup. Organisasi ini mengandalkan pemasukannya dari donasi
pihak-pihak yang bersimpati atau iuran anggota. Hal ini sebagai contoh untuk
eksternalitas negatif. Sedangkan untuk eksternalitas positif, kita mengetahui
banyak perguruan tinggi yang membentuk yayasan yang menghimpun sumbangan dari
para alumni, perusahaan, atau pihak-pihak lain, untuk kemudian disalurkan
sebagai beasiswa.[13]
Pasar swasta
terkadang juga mampu mengatasi masalah eksternalitas, dengan membiarkan
pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengatasinya. Motif utama mereka memang
untuk memenuhi kepentingannya sendiri, namun dalam melakukan suatu tindakan ,
mereka juga sekaligus mengatasi eksternalitas. Sebagai contoh, kita lihat saja
apa yang akan dilakukan oleh seorang petani apel dan seorang peternak lebah
yang hidup berdekatan. Pada saat lebah-lebah itu mencari madu dari satu bunga
apel ke bunga lainnya, mereka membantu penyerbukan dan mempercepat pohon-pohon
apel itu berbuah. Ini menguntungkan si petani apel. Sedangkan si peternak juga
untung karena ia tidak perlu memberi makan lebah-lebahnya. Namun jika kerja sama
terselubung yang saling menguntungakan itu tidak dipehitungkan, maka kedua
belah pihak bisa merugi. Jika pohon apel yang ditanam si petani terlalu
sedikit, maka lebah-lebah itu akan kekurangan makanan. Sebaliknya, jika lebah
yang dipelihara si peternak terlalu sedikit, maka proses penyerbukan tidak
lancar. Eksternalitas ini dapat diinternalisasikan dengan cara penggabungan
kedua usaha. Si petani membeli seluruh atau sebagian usaha peternakan lebah,
atau sebaliknya si peternak membeli seluruh atau sebagian pohon apel. Jika
kedua usaha itu disatukan, maka pengelolanya akan lebih mudah menentukan berapa
banyak pohon apel yang harus ditanam, dan berapa ekor lebah yang harus
dipelihara, demi membuahkan hasil yang maksimal. Dalam kenyataannya, niat untuk
mengupayakan internalisasi eksternalisasi seperti itulah, yang merupakan
penyebab mengapa banyak perusahaan yang menekuni lebih dari satu bidang/ jenis
usaha sekaligus. Cara lain di pasar swasta dalam mengatasi eksternalitas
adalah, penyusunan kontrak atau perjanjian di antara pihak-pihak yang menaruh
kepentingan.[14]
2.
Teorema Coase
Ada sebuah
pemikiran yang disebut teorema Coase (Coase therem) mengambil nama perumusnya,
yakni ekonom Ronald Coase-yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat
efektif seandainya memenuhi satu syarat. Syarat itu adalah pihak-pihak yang
berkepentingan dapat melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah
penanggulangan masalah eksternalitas yang ada diantara mereka, tanpa
menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada.
Menurut teorema Coase, hanya jika syarat itu terpenuhi, maka pihak swasta itu
akan mampu mengatasi masalah eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi
sumber daya. Menurut Terorema Coase, distribusi hak awal tidak berpengaruh pada
kemampuan pasar untuk mencapai hasil efisien.[15]
3.
Penyebab Gagalnya Solusi Swasta
Logika
teorema Coase memang meyakinkan, namun tidak selamanya sesuai dengan kenyataan
yang ada. Dalam prakteknya, kita tahu bahwa pelaku-pelaku ekonomi
swasta/pribadi seringkali gagal memperoleh pemecahan yang efisien, atas suatu
masalah yang bersumber dari eksternalitas. Teorema Coase ternyata hanya
berlaku, jika pihak-pihak yang berkepentingan tidak dihadapkan pada kendala
untuk mencapai dan melaksanakan kesepakatan. Itu berarti, peluang kesepakatan
memang selalu terbuka, namun hal itu tidak selalu bisa diwujudkan.[16]
5. Kebijakan
Publik Untuk Mengatasi Eksternalitas
1.
Regulasi
Mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau
mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu yang disebut regulasi
atau pendekatan komando dan kontrol untuk melenyapkan eksternalitas. Seperti
pemerintah dapat menindak pihak-pihak tertentu yang mencemari lingkungan dengan
limbah produksinya.
2.
Pajak Pigovian Dan Subsidi
Pajak Pigovian adalah pajak
yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dari suatu eksternalitas
negatif. Disebut pajak pigou karena ditemukan oleh ekonom yang bernama Arthur
Pigou (1877-1959). Bentuk dari pajak tersebut adalah ketika ada dua pabrik
yaitu pabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang limbah 500 ton
per tahun, maka hanya dua pilihan yang mereka lakukan. Pertama, Badan
Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA, Environmental Protection Agency) akan
mewajibkan semau pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per tahun
atau yang kedua, mereka akan dikenai pajak sebesar $50,000 untuk setiap ton
limbah yang dibuang oleh setiap pabrik.
BAB III
KESIMPULAN
Eksternalitas merupakan dampak-dampak tidak
terkompensasi dari tindakan seseorang terhadap kesejahteraan orang lain yang
terlibat. Eksternalitas
terjadi karena para pelaku ekonomi mempengaruhi pihak ketiga yang tidak
tercermin dalam transaksi pasar.eksternalitas terjadi setiap kali
kegiatan-kegiatan dari satu pelaku ekonomi mempengaruhi kegiatan-kegiatan
pelaku ekonomi lainnya dengan cara-cara yang tidak diperhitungkan oleh operasi
pasar. Eksternalitas
terbagi menjadi dua jenis yaitu eksternalitas positif dan eksternalitas
negatif.
Faktor yang menyebabkan adanya eksternalitas yaitu keberadaan barang publik karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum,
keberadaan sumber daya bersama (common resources) atau akses
terbuka terhadap sumber daya tertentu, ketidak sempurnaan pasar, kegagalan pemerintah.
Pihak swasta
yang dimaksud dalam hal ini yaitu pihak-pihak nonpemerintah. Pada dasarnya,
tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan
kelompok), berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja, yakni
untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara
sosial.
Kebijakan
pemerintah yang dapat dilakukan dalam menghadapi eksternalitas yaitu dengan
memberikan pengaturan terhadap pihak terkait, serta memberlakukan pajak dan
subsidi. Pajak pigovian merupakan pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi
dampak dari suatu eksternalitas negatif.
[1] Dominick
Salvatore, Teori Mikro Ekonomi, Jakarta: Erlangga, 1989, hal 352
[2] Walter
Nicholson, Teori Mikro Ekonomi, Jakarta:Binarupa Aksara, 1991, hal 435
[4] Agus
Dimas, http://akusuccess.blogspot.com
diakses pada 01-03-2015, pukul 15.25
[5]
Wikipedia.com, diakses pada 01-03-2015, pukul 15.25
[6] Tika, http://risyantika.blogspot.com/2013/11/eksternalitas-mikro-ekonomi.html, diakses
pada 03-02-2015, pukul 09.07
[8] Walter
Nicholson ,Teori Mikro Ekonomi, Jakarta:Binarupa Aksara, 1991, hal
436-438
[9] Muthia,
http://muthiafirariani.blogspot.com/2013/11/ekonomi-publik-eksternalitas.html ,
diakses pada 03-02-2015, pukul 9.20
[10] Muthia,
http://muthiafirariani.blogspot.com/2013/11/ekonomi-publik-eksternalitas.html ,
diakses pada 03-02-2015, pukul 9.20
[11] Muthia,
http://muthiafirariani.blogspot.com/2013/11/ekonomi-publik-eksternalitas.html ,
diakses pada 03-02-2015, pukul 9.20
[15] Ibid, hal 211
[17] Muthia,
http://muthiafirariani.blogspot.com/2013/11/ekonomi-publik-eksternalitas.html ,
diakses pada 03-02-2015, pukul 9.20
Emoticon