BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah satu peninggalan kepurbakalaan dari jaman permulaan Islam
di Jawa yang sampai kepada kita dewasa ini ialah peninggalan dalam bentuk bangunan
atau warisan visual. Diantaranya yang terpenting ialah bangunan yaitu
kompleks-kompleks makam para wali, yang oleh masyarakat dianggap sebagai wali
sanga. Antara lain kompleks Sunan Ampel (Surabaya), Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Sunan Bonang
(Tuban), Sunan Kudus (Kudus), Sunan Gunung Jati (Cirebon) dan Sunan Giri
(Gresik).
Kompleks Sunan Giri sebagai salah satu dari kompleks-kompleks
makam para wali diatas, meliputi kompleks makam dan bangunan masjid. Meksipun
adanya kemungkinan bahwa bangunan makam Sunan Giri telah mengalami beberapa
kali perubahan, terbukti pada profil bagian depan masjid memuat angka tahun
1544 M dan 1857 M, diduga kronologi itu merupakan pembinaan kembali masjid di
kompleks Giri. Adapun bangunan tertua atau aslinya yang terdahulu mestinya
didirikan di sekitar permulaan jaman Islam, tegasnya di sekitar permulaan abad
XVI. Namun demikian, meskipun kompleks Sunan Giri merupakan suatu kompleks yang
berasal dari jaman Islam, serta kepentingan Islam, yaitu sebagai tempat
pemakaman dan beribadah, yaitu bersembahyang-shalat, tetapi pengaruh
unsur-unsur kebudayaan dari jaman prasejarah maupun dari jaman Hindu-Budha
masih jelas tampak, baik ditinjau dari jiwa maupun seni bangunan atau
arsitekturnya.
Bertolak dari paparan yang telah dikemukakan, kajian dan uraian
terhadap keperbakalaan Sunan Giri bertujuan sebagai berikut:
1. Mengungkapkan
proses masuknya agama Islam, corak-corak ajaran, dan cara penyebarannya.
2. Menjelaskan
proses akulturasi antara kebudayaan Indonesia asli dari jaman pra sejarah,
Indonesia Hindu yang telah berabad-abad berpengaruh kuat di Indonesia dan
bersifat politheistis dengan kebudayaan Islam yang baru datang setelah
mengalami perkembangan yang panjang dan setelah melewati beberapa negeri yang
terlebih dahulu menjadi Islam. Misalnya
Persia, India (gujarat), Malabar, dan Mesir. Selain itu agama Islam juga
bersifat monotheistis.
3. Mengungkapkan
mengapa unsur-unsur kebudayaan Indonesia dari jaman prasejarah dan unsur-unsur
kebudayaan dari jaman Hindhu-Budha yang telah berurat berakar pada kehidupan
bangsa Indonesia, khususnya di Jawa tetap memperlihatkan corak, khususnya pada
kompleks Sunan Giri. Pada pihak lain kompleks Sunan Giri juga digunakan untuk
kepentingan yang bersifat keislaman.
4. Menjelaskan
kebijakan para wali dalam menyebarkan dan menarik perhatian rakyat dengan
menggunakan media dan metode yang telah dikenal secara umum pada masa itu
(permulaan Islam), sehingga dengan tidak terasa rakyat dapat dibawa ke arah
ajaran yang benar, sesuai degan ajaran Islam.
Dari
berbagai latar belakang diatas, saya akan mendeskripsikan mengenai makalah yang
berjudul “Kepurbakalaan Sunan Giri” Sosok Akulturasi Kebudayaan Indonesia
Asli, Hindhu-Budha dan Islam Abad 15-16.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
hubungan budaya Indonesia Asia Barat dan peranan Sunan Giri dalam proses
islamisasi Jawa?
2. Bagaimana
perkembangan kebudayaan di Jawa pada abad 15-16?
3. Bagaimana
kepurbakalaan Sunan Giri?
C. Tujuan
Pembahasan
1.
Untuk mengetahui hubungan
budaya Indonesia Asia Barat dan peranan Sunan Giri dalam proses islamisasi
Jawa.
2.
Untuk mengetahui
perkembangan kebudayaan di Jawa pada abad 15-16.
3.
Untuk mengetahui kepurbakalaan
Sunan Giri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hubungan Budaya Indonesia
Asia Barat Dan Peranan Sunan Giri Dalam Proses Islamisasi Jawa
Di Indonesia, sejak jaman dahulu kala
telah ada rute pelayaran yang kemudian disebut sebagai jalan perdagangan. Rute
ini selain menjadi penghubung antara suatu kepulauan dengan kepulauan yang
lain, juga menghubungkan Indonesia dengan negara-negara lain. Misalnya: Cina,
Campa, India, Arab dan sebagainya. Jalan Perdagangan ini dimulai dari Maluku
dengan pusat-pusat antara lain: Ambon dan Makassar, kemudian menyusur pantai
utara Jawa, pantai timur Sumatra, kemudian pecah menjadi dua cabang. Ke utara
menuju ke Cina, yang satunya, setelah melalui selat Malaka menuju India, Persia
dan Arab. Disepanjang jalan dagang ini kemudian timbul pusat-pusat perdagangan
dan kerajaan, antara lain: Ternate, Tidore, (Maluku), Makassar (Sulawesi
Selatan), Tuban (abad XI), Gresik (abad XIV), Demak ( abad XVI), Jepara (abad
XVI-XVIII), Cirebon (abad XVI), dan banten (abad XVII) (pesisir utara jawa),
Palembang, Samudra Pasei (abad XIII) dan Aceh (abad XVII) (Sumatra).
Jalan dagang tersebut dalam
sejarahnya mempunyai tiga fungsi, yaitu: Pertama, sebagai sarana lalu
lintas barang yang berasal dari Indonesia, seperti: rempah-rempah (Maluku),
beras (Jawa), kayu cendana (Timor), kapur barus (Sumatra) dan lain-lainnya.
Barang-barang dari luar yang diangkut ke Indonesia, misalnya: kain dari India,
sutera dan porselin (Cina). Kedua, berfungsi sebagai lalu lintas orang.
Hilir mudiknya berbagai bangsa di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia dapat
dikatakan juga melewati jalan dagang ini. Misalnya, bangsa-bangsa: India, Cina,
Arab, Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan sebagainya. Ketiga,
berfungsi sebagai lalu lintas kebudayaan dan agama. Agama-agama Hindhu, Budha,
Islam dan Nasrani dalam penyebarannya ke Indonesia juga melewati jalan dagang
ini.
Mengenai masuknya Islam ke Indonesia, khususnya ke Jawa dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a. Tidak
ada perbedaan pendapat tentang asal-usul agama Islam, yaitu tanah Arab (Saudi
Arabia).
b. Mengenai
masuknya Islam ke Indonesia, khususnya ke jawa setelah melalui beberapa negara
yang terlebih dahulu menjadi islam. Misalnya: Mesir, Iran dan India. Dalam hal
ini terdapat perbedaan pendapat sebagai berikut.
Pertama,
pendapat yang menyatakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia, langsung dari
Mesir. Alasannya, (1) corak Islam di Mesir sama dengan corak ajaran Islam di
Indonesia, yaitu sama-sama bermadzhab Syafi’i. Pendapat ini pelopornya antara
lain adalah Hamka. (2) adanya hubungan dagang antara Arab-Indonesia sejak zaman
Hindhu. (3) Adanya guru-guru besar agama Islam baik dari bangsa Indonesia yang
mengajar di tanah Arab, maupun guru-guru besar Arab yang langsung menyiarkan
Islam ke Indonesia. Misalnya : Maulana Muhammad al-Mustanshir al Abbasi (1407
M.) dan syeh Nuruddin al-Raniri (1500).
Kedua,
pendapat yang mendasarkan kepada fakta-fakta adanya pengaruh ajaran wujudiyah
dari al-Hallaj antara lain dianut oleh Hamzah fansuri, Samsuddin al-Sumatrani
(Sumatera Utara), ajaran Siti Jenar (Jawa), persamaan kebiasaan dan
adat-istiadat antara penduduk Gujarat dan penduduk Indonesia, khususnya
penduduk Jawa. Demikian pula adanya faham syi’ah dan tradisinya yang
berpengaruh dibeberapa tempat di Indonesia, khususnya penduduk Jawa. Demikian
pula adanya faham Syi’ah dan tradisinya yang berpengaruh di beberapa tempat di
Indonesia, seperti Minangkabau dan Aceh memperkuat kesimpulan bahwa ajaran
Islam yang masuk ke Indonesia ialah ajaran yang berkembang setelah melewati
Iran, Gujarat (India), dan kemudian ke Indonesia. Para ahli seperti Hamka,
Snouck Hurgronje, Abu bakar Atjeh, dan sebagainya pada umumnya sependapat bahwa
masuknya Islam ke Indonesia lewat aktivitas perdangan.
Ditinjau
dari segi waktunya, tidak tertutup kemungkinan bahwa pada abad VII-VIII agama
Islam telah sampai di Indonesia, sebab pada abad tersebut pedagang-pedagang Arab
juga telah mempunyai hubungan langsung dengan Indonesia (Sriwijaya), maupun
dengan Cina. Akan tetapi baru pada abad XIII tumbuh menjadi kekuatan riel,
dengan munculnya kerajaan islam yang pertama: Samudra Pasei di Sumatra Utara,
seperti diberitakan oleh Marco Polo dan Ibn Batuthah. Di jawa pada abad XI
telah diketemukan jejak bahwa orang Islam juga telah sampai di Gresik. Hal itu
terbukti di kota itu terdapat makam seorang putri beragama Islam bernama
fatimah binti maemun. Pada inskripsi dari batu granit yang terpadat pada
makamnya menerangkan bahwa ia wafat pada tahun 1082 M. Baru pada abad XV agama
islam berkembang secara pesat.
B.
Perkembangan kebudayaan
di Jawa pada abad 15-16
Dalam penyebaran dan perkembangan Islam itu, pada tahap
pertama, dapat dikatakan para pedagang, terutama pedagang Gujarat, secara tidak
langsung menyampaikan penyiaran Islam kepada penduduk asli. Pada tahap
berikutnya, setelah penduduk kota-kota pelabuhan seperti Tuban dan Gresik
menjadi Islam dan beberapa bangsawan atau raja memeluk Islam (Demak), kemudian
Islam disebarkan bersama-sama oleh raja dan para ahli agama Islam. Dalam
penyebaran Islam di Jawa, peranan para wali, terutama wali sanga sebagai
golongan ahli agama tidaklah kecil. Bahkan ada suatu periode tertentu dalam
sejarah Indonesia yang disebut sebagai “periode kewalian-kewalen), yaitu
periode untuk menunjukkan masa-masa pertama dari jaman Islam di Indonesia.
Termasuk dalam kelompok wali sanga ialah Sunan Giri.
Tentang tokoh Sunan Giri, ditinjau dari geneologinya,
sebagaimana silsilah dan asal-usul wali-wali lainnya, maka silsilah Sunan Giri
dapat dikatakan juga kurang jelas dan simpang siur, karena dihimpun dari
bermacam-macam sumber. Sumber-sumber itu antara lain: Babad Tanah Jawi,
catatan silsilah milik suatu golongan, seperti milik golongan Alawiyin dari
Palembang, tradisi lisan dan sebagainya. Tidak jarang urutan nama-namanya
berbeda antara sumber yang satu dengan yang lainnya. Misalnya tokoh Maulana
Iskhak. Maulana Iskhak dalam Serat Kanda disebut dengan Syaid Iskak,
kemudian di dalam Babad Tanah Jawi bernama Wali lanang, sedang tradisi
lisan menamakan sebagai Syeh Awalul Islam. Demikian pula segi-segi kehidupan
Sunan Giri tidak sedikit yang kurang jelas atau bahkan tidak jelas.
Segi atau unsur-unsur yang tidak jelas itu antara lain dalam Babad
Tanah Djawi antara lain adanya motif-motif sinar atau cahaya yang memancar
dari tubuh Raden Paku, berjalan di tanah air ketika kembali dari Malaka, perkawinan
sayembara, adanya tokoh khadam (Jawa: penakawan), jelas merupakan
unsur-unsur legenda atau dongeng dari pada “sejarah” yang ilmiah. Cerita
tersebut bentuknya seperti polarisasi dari kisah kesusasteraan seperti Parataton,
Negarakartagama, Mahabarata dan lain sebagainya dari zaman
sebelumnya, dengan selubung Islam.
Dalam hal penyampaian ajaran Islam, seperti halnya sunan
Kalijaga, sunan bonang, Sunan Giri secara bijaksana meneruskan dan memanfaatkan
sarana dan tradisi yang telah ada pada zaman itu atau juga dari periode
sebelumnya, sebagai media dakwah. Strategi itu dibuktikan dengan pemakaian lagu
(Jawa: tembang) yang berjiwa keagamaan, irama gamelan (musik jawa),
seperti: Asmaradana, Ilir-ilir, meneruskan sisem mandala sebagai
institusi pendidikan yang kemudian berkembang menjadi pesantren. Lembaga
pesantren kemudian sebagai pencetak kader penyiar Islam. Dalam bidang politik,
Sunan Giri dalam Babad Tanah Jawi dianggap sebagai pendukung Kerajaan
Islam Demak.
C.
Kepurbakalaan Sunan Giri
Adanya Kepurbakalaan pada kompleks Sunan Giri disebabkan oleh
tiga faktor. Pertama, adanya toleransi Islam dalam masalah kebudayaan,
yang kemudian menyebabkan mempermudah melalukan akulturasi dengan kebudayaan
yang dijumpainya. Bahkan tidak jarang Islam juga tidak melarang meneruskan
penggunaan unsur-unsur buaday yang lebih tua untuk kepentingan Islam. Misalnya
: masjid al-Haram di makkah, dahulu sebelum Islam oleh kaum Quraisy digunakan
sebagai tempat pemujaan berhala-berhala seperti Lata dan Uza. Tatkala tempat
suci itu jatuh keterangan Islam pengunaannya diubah menjadi masjid setelah
berhala-berhala seperti Lata dan Uza. Tatkala tempat suci itu jatuh ke tangan
Islam penggunaannya diubah menjadi masjid setelah berhala-berhala yang ada
ditempat itu di hancurkan. Contoh lain, masjid al-Aqsa di Jarussalem. Masjid
Aqsa, pada masa sebelum Islam adalah tempat suci bagi orang-orang Romawi untuk
pemujaan terhadap Yupiter. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat suci kaum
yahudi dan kaum Nasrani. Setelah jatuh ke tangan Islam pada 638 M. Tempat
tersebut diubah menjadi masjid. Demikian pula setelah agama Islam masuk dan
berkembang di Jawa, ternyata juga melanjutkan bentuk-bentuk bangunan dari zaman
sebelum Islam. Misalnya, bangunan-bangunan gapura, bangunan masjid beratap
tumpang, cungkup dan sebagainya.
Kedua, pandangan masyarakat Jawa kepada kedudukan wali
yang sangat tinggi. Hal itu didasarkan bahwa menurut masyarakat Jawa pada
umumnya, para wali itu diyakini sebagai manusia yang dikasihi oleh Allah.
Status wali dalam masyarakat Jawa dapat dikatakan selain menggantikan kedudukan
pendeta Hindhu-Budha dari masa sebelum Islam, juga kedudukan para penguasa yang
dianggap sebagai “titisan” atau penjelmaan dewa. Ditinjau dari segi
kuatnya pengaruh Hindhu-Budha dalam perkembangan kebudayaan Jawa, tidak
mustahil kata kata wali sanga berasal dari kata sangha dari
perbendaharaan Budhis, berarti ikatan/jama’ah para wali. Kata ini oleh orang
Jawa kemudian dihubungkan dengan angka 9 (sembilan-sanga), yang juga
dianggap sebagai angka mistik. Angka tersebut dalam masyarakat Islam dianggap
sebagai momentum dari peristiwa-peristiwa penting. Misalnya wukuf di arafah
sebegai esensi ibadah haji ditetapkan pada 9 Dzulhijjah, jumlah pemuda yang
bersembunyi di gua dalam surat al-kahfi selain berjumlah 9 orang, waktunya
selama 300 tahun ditambah 9 tahun. Butir-butir tasbih juga berjumlah 99. Pada
jaman sebelum Islam angka 9 dihubungkan dengan nama dewa mataangin (Bab II).
Bila angka sangha kemudian dihubungkan dengan wali sanga, juga
bukan merupakan hal yang mustahil. Oleh karena dalam kepercayaan rakyat wali
sanga adalah jama’ah para wali yang terdiri dari 9 orang ketika mereka
melakukan musyawarah untuk memutuskan hal-hal yang dianggap penting pada masa
itu.
Ketiga, adanya persamaan antara
intisari ajaran kebatinan Hindhu-Budha dan ajaran kebatinan Islam yang dianggap
berbau mistik. Ajaran ini selain diajarkan oleh Hamzah Fansuri, Samsuddin
al-Sumatrani (dari sumatera) dan Siti Jenar di Jawa. Persamaan itu meliputi ajaran
tentang penciptaan yang bersifat imanensi, meliputi penciptaan atau
pengaliran dari Dzat Tuhan menjadi semua mahkluk, khususnya manusia disebut tanazzul,
sedang kembalinya manusia kepada Tuhan setelah mencapai derajat insan kamil
atau manusia sempurna atau taraqqi. Pada waktu Islam mulai berkembang
pesat di Jawa Timur, khususnya di Jawa Timur, yaitu pada akhir abad XV, yang
juga merupakan periode akhir Majapahit (Jaman Hindu), unsur-unsur kebudayaan
Indonesia “asli” dari zaman prasejarah
muncul kembali. Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah aspek kebudayaan
tersebut adalah aspek kerohaniaan, yaitu pemujaan arwah leluhur. Arwah-arwah
tersebut dianggap bersemayam digunung-gunung. Unsur lainnya dalam bentuk fisik
atau material yaitu unsur bangunan dari zaman megalitik. Unsur bangunan ini
oleh Stutterheim disebut dengan kebudayaan megalitik, berbentuk
undak-undak. Baik unsur kebudayaan prasejarah, maupun unsur kebudayaan
Hindhu-Budha itu dalam perkembangannya dilanjutkan oleh Islam pada periode
selanjutnya.
Seperti halnya dengan wali-wali lain, misalnya: Sunan Gunung
Jati, Sunan Nurrahmat (Sendang Duwur), Sunan Muria, maka sesuai dengan petunjuk
ayahnya: Maulana Iskak, Sunan Giri pun memilih tempat kediamannya juga diatas
bukit (gunung). Demikian pula makamnya juga diletakkan di atas bukit yang
tertinggi di Giri. Pemilihan tempat di gunung untuk mendirikan tempat-tempat
suci keagamaan juga berakar dari tradisi keagamaaan dari periode prasejarah,
terutama dari zaman megalitikum, maupun
dari jaman Hindhu. Sesuai dengan kepercayaan yang berkembang saat itu, gunung
selain dianggap sebagai tempat bersemayam arwah leluhur, juga dalam kepercayaan
Hindhu juga dianggap sebagai tempat tinggal atau kediaman para dewa, khususnya
Gunnung Mahameru. Dengan demikian pendirian kompleks Sunan Giri dapat dikatakan
faktor utama yang menentukan ialah pertimbangan tempat yang dianggap sakral,
sebagai kelanjutan dari tradisi atau kepercayaan sebelum Islam, baik dari zaman
prasejarah maupun jaman Hindhu
Bangunan-bangunan pada kompleks Giri berbentuk gapura,
cungkup, dan masjid. Bagunan gapuranya, khususnya gapura menuju ke makam Sunan
Giri, dari arah selatan berbentuk candi bentar, bentuk dasarnya memeliki pola
sama dengan candi bentar, bentuk dasarnya memiliki pola sama dengan candi
bentar Wringin Lawang, dan candi bentar pada relief berasal dari Trawulan (Bab
IV B.1). Bentuk bentar itu selanjutnya juga digunakan pada gapura pura-pura di
Bali. Kompleks Penataran semula juga berpintu gerbang candi bentar, akan tetapi
telah turun.
Mengenai bangunan cungkup Sunan Giri, ternyata bentuk dasar
bangunannya sama dengan relief bangunan suci dari rangkaian cerita Sudamala
pada Candi Tigawangi. Atap cungkup yang dibuat dari bahan kayu memiliki nilai-nilai
kesakrakalan yang dapat dihubungkan dengan kesucian pohon hayat yang didalam
kepercayaan Hindhu dianggap sebagai pohon kahyangan, pohon pengharapan (kalpa
druma), pohon hayat (kalpa wreksa). Untuk memahami makna simboliknya perlu
dilakukan pendekatan tentang cara berfikir berdasarkan sistem klasifikasi.
Dalam sistem ini, pohon hayat dianggap sebagai lambang alam madya,
terwujud di atas dunia bawah. Dunia atau alam bawah itu sendiri dilambangkan
oleh naga, air dan teratai. Unsur klasifikasi lainnya, yaitu dunia atas dilambangkan
dengan burung garuda atau enggang. Adapun pohon hayat dilambangkan dengan
burung garuda atau enggang. Adapun pohon hayat sebagai gamabran totalan alam,
meliputi dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas, dipercaya sebagai
manifestasi ketuhanan, lambang keesaan tertinggi. Keseluruhan sebagai totalitas
yang disimbolkan dalam bentuk pohon itu hakikatnya sama dengan Brahman.
Atap cungkup berbentuk limas berdasarkan kuatnya pengaruh
budaya Hindhu-Budha atas kebudayaan Indonesia, khususnya dalam hal keagamaan,
diduga merupakan perpaduan antara bentuk payung (cattra) dan pola dasar
candi. Dengan adanya lukisan payung pada kain penjenazahan (kaffan), berasal
dari sekitar danau Ranau (Sumatra) yang melukiskan roh-roh berkendaraan gajah
dan berpayung memberikan petunjuk bahwa pada jaman prasejarah payung telah
digunakan dalam upacara-upacara pelabuhan. Antara lain pada upacara perkawinan
(mengiringkan temanten, dan upacara kematian (BAB IV.B.2. Pada seni bangunan
suci budhis, yaitu stupa, payung menempati bagian tearatas disebut cattra.
Demikian pula pada bangunan masjid yang terdiri dari kaki bangunan (pondamen-soubhasement),
tubuh (garbha) dan atap sesuai dengan struktur bangunan suatu candi yang
terdiri soubhasement (kaki), garba (badan-tubuh) dan cikara (atap).
Berdasarkan fakta-fakta diatas para ahli ada yang berpendapat bahwa atap masjid
yang tertua di Indonesia berbentuk tumpang. Susunan tumpang itu terdiri dari
satu, tiga dan lima. Bangunan masjid beratap tumpang itu terdiri dari satu,
tiga dan lima. Bangunan masjid beratap tumpang lima dari abad XVII, berdasarkan
keterangan Francois Valentijn ialah masjid Banten dan masjid Japara.
Dengan demikian dari saka
guru ruang untuk wanita masjid Ainulyakin dapat dipastikan bahwa bangunan
masjid yang didirikan oleh Sunan Giri pada tahun 1477 beratap tumpang. Masjid
tersebut pada tahun 1544 dipindahkan dari Giri Kedaton ke situs/kompleks makam.
Masjid ini pada tahun 1857 oleh Bupati Gresik Adipati Sasrawinata dipugar dan
diperluas hingga menjadi masjid Muhammad Ainulyakin yang ada sekarang, atapnya
juga tumpang. Adapun masjid yang dibangun pada 1544 kemudian dikonservasi
menjadi ruang bagi kaum perempuan, di bagian selatan Masjid Ainulyakin.
Bentuk atap tumpang pada jaman sebelum Islam terlihat pada relief
bangunan suci pada candi Jago dan tubuh candi induk Penataran juga beratap
tumpang. Berdasarkan fakta dari peninggalan-peninggalan sejarah tersebut maka
bentuk bangunan gapura candi bentar, cungkup makam dan masjid pada kompleks
Sunan Giri merupakan kelanjutan dari seni bangunan dari zaman sebelum Islam.
Dalam hal seni ragam hias yang terdapat pada kompleks Sunan
Giri, misalnya ragam hias naga pada gapura candi bentar, dan 2 pintu masuk
cungkup sunan Giri. Ragam hias naga pada jaman prasejarah, jenis hewan tersebut
telah dihormati sebagai salah satu aspek dewi kesuburan dan penjaga kekayaan di
dalam bumi. Dalam kepercayaan (mitologi) Hindhu naga dihubungkan dengan alam
keabadian, sedangkan pada seni ragam hias dari jaman Hindhu naga dihubungkan
dengan garuda. Keduanya dianggap sebagai representasi dunia atau alam bawah dan
alam atas. Kedua jenis hewan itu juga sering digambarkan, baik secara bersama
atau terpisah pada relief candi, yoni dan patung. Naga juga dipercaya menjadi
penyangga dunia sebagai perwujudan Wisnu dari sifatnya yang gelap.
Ragam hias lainnya yang juga sangat menonjol pada bangunan
cungkup adalah unsur bunga teratai atau lothus. Ragam hias teratai
terdapat pada makam sunan Giri dan Sunan Prapen. Ragam hias ini pada jaman
Hindhu juga telah digunakan sebagai asana atau lapik patung-patung dewa, baik
dari bahan logam, patung perunggu, maupun patung-patung perwujudan dari batu.
Jenis flora ini juga digunakan sebagai lambang dinasti, baik dinasti Singasari,
maupun dinasti Majapahit, yang masing-masing berbentuk teratai keluar dari
bonggol daann teratai keluar dari jambangan. Teratai dalam masyarakat
tradisional yang masih berfikir secara klasifikasi dianggap sebagai alam bawah,
kehidupan kembali, kebangkitan dan keabadian sesudah kematian.
Ada jenis ragam hias yang biasanya dipasang pada pintu masuk
suatu bangunan suci, yaitu ragam hias kala atau ragam hias raksasa. Ragam hias
ini terlukis pada pintu masuk cungkup Sunan Giri, dan distiler atau disamarkan
dengan bentuk-bentuk flora atau sulur-suluran. Ragam hias ini ada yang
menyebutnya sebagai ragam hias kedok atau topeng, juga telah digunakan secara
luas pada jaman sebelum islam. Fungsinya untuk menolak pengaruh-pengaruh jahat
yang akan mengganggu atau merusak kesakralan suatu bangunan suci. Pada seni
ragam hias Hindhu, bentuk kedok itu diubah sedemikian rupa, hingga menjadi muka
hantu atau raksasa, dan biasanya ditempatkan di atas pintu masuk atau
relung-relung candi.
Motif-motif ragam hias, diantaranya terdapat motif cerita
hewan. Dengan membandingkan relief cerita hewan (fabel) yang bermotif
pendidikan (buaya dan banteng), kejujuran (cerita kura-kura dan bangau),
kesetiakawanan (cakrangga-cakranggi), dan keagamaan (bubksa-gagang aking)
seperti terlukis pada candi panataran, Blitar daan Candi Jago, Malang dari
jaman Majapahit, diduga relief pada cungkup Sunan Prapen (asalnya dari makam
Sunan Giri), diduga merupakan sarana pendidikan budi pekerti. Apabila dugaan
itu benar, hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad menyatakan bahwa misi utama
penyebaran Islam ialah penyempurnaan akhlak (wamaa bungits-tu illali
makaramil akhlaq).
Adapun relief gunung yang banyak dijumpai pada lukisan-lukisan
pada mimbar, dan juga gebyok makam, berdasarkan suasana budaya akhir Majapahit
yang penuh dengan nuansa munculnya kembali budaya Indonesia prasejarah, tidak
diragukan lagi merupakan kelanjutan dari perilaku penghormatan terhadap gunung.
Pada kompleks makam-makam Islam tertua di Indonesia unsur
nisan merupakan bagian penting. Unsur ini dapat dikatakan juga berasal dari
perkembangan kebudayaan Indonesia asli berupa menhir sebagai tempat mengikat
korban untuk upacara kematian, yaitu kerbau. Oleh karena itu menhir kemudian
juga disebut sebagai maesan, artinya tempat (mengikat) mahesa
atau kerbau. Pada zaman hindu menhir berkembang menjadi yupa (Kutei),
patung-patung perwujudan, asana-asana dewa, batu-batu prasasti dan lingga,
kemudian menjadi nisan-nisan pada makam Islam (Tralaya). Dengan demikian secara
garis besar, seni ragam hias pada Kompleks Sunan Giri dapat dikatakan juga
merupakan kelanjutan seni ragam hias dari jaman sebelumnya, akan tetapi dalam
bentuk dan ukuran lebih sederhana.
Dari sistem susunan bangunan kompleks Sunan Giri, bila dilihat
dari arah selatan ternyata kompleks Sunan Giri terdiri dari tujuh tingkatan
atau undang-undangan. Dalam susunan ini makam Sunan Giri terletak pada lokasi
tertinggi dan juga pada posisi paling belakang. Pada punden berundag-undag dari
jaman prasejarah, misalnya dari Lebak Sibedug tempat yang tertinggi itu
dianggap sebagai tempat bermusyawarah arwah leluhur. Pada punden berundag-undag
di Gunung Penanggungan, tingkat yang paling tinggi juga berkiblat ke puncaknya,
yang dipercaya sebagai tempat bersemayam arwah leluhur yang telah didewakan. Dari
arah lain, dari timur ke barat, tampaklah bahwa susunan kompleks Giri terdiri
dari tiga halaman. Halaman kesatu (1) terletak paling timur, meliputi bangunan
masjid dan bangunan depannya); halaman kedua, berada diantara makam Sunan Giri
dan masjid dan halaman ketiga yaitu halaman yang paling belakang merupakan
halaman yang paling penting yaitu situs makam Sunan Giri.
Susunan kompleks Sunan Giri dapat dikatakan memiliki pola
serupa dengan susunan bangunan kompleks Kudus. Berdasarkan sisa-sisa gapura
kuna berbentuk paduraksa yang masih dikonservasi di dalam masjid Kudus,
memberikan petunjuk bahwa pintu gerbang tersebut pembangunannya lebih dahulu
dari pada masjidnya. Adanya kenyataan itu mestinya dahulunya merupakan pura
atau tempat peribadatan. Berdasarkan petunjuk tradisi adanya larangann makan
daging lembu pada komunitas di sekitarnya, diduga kompleks itu sebagai tempat
suci Hindhu. Peninggalan purbakala lainnya yang dapat dijadikan perbandingan
adalah Sendang Duwur. Dengan adanya perbandingan diatas, tidak mustahil
kompleks Giri pada periode sebelum Islam adalah suatu tempat suci atau keramat.
Dari bukti-bukti diatas ternyata dalam meletakkan susunan bangunan di Giri
sebagai bangunan untuk keperluan keagamaan Islam juga melanjutkan tradisi dari
jaman sebelumnya, yaitu susunan kompleks Penataran. Serupa dengan susunan
penataran, pada kompleks Giri bangunan makam Sunan sebagai bangunan tersakral
dan terpenting, selain diletakkan pada lokasi paling tinggi, juga ditempatkan
pada halaman paling belakang.
Dalam hal kehadiran peziarah ke makam-makam para wali,
khususnya makam Sunan Giri dengan membawa dan menabur bunga, maksudnya untuk
mohon berkah, karamah dan syafaat agar yang dicita-citakan terkabul, banyak
rezeki, dikaruniai keturunan, panjang umur, keselamatan dan lain-lainnya juga
merupakan kelanjutan dari pemujaan terhadap arwah leluhur. Dalam lapisan
masyarakat ini arwah leluhur dianggap masih selalu memberikan perlindungan
kepada keluarganya yang ditinggalkan di dunia, dan sewaktu-waktu pertolongan
tersebut dapat dimintanya. Lebih-lebih orang yang pada masa hidupnya dianggap
mempunyai kekuatan ghaib luar biasa, sebagai tanda bahwa ia dikasihi oleh
Tuhan. Tokoh kharismatik semacam itu seperti halnya Sunan Giri sampai setelah
wafatnyapun makamnya menjadi obyek leluri.
Adanya pendapat yang menyatakan bahwa, tahun wafat Sunan Giri
yang digambarkan candra sangkala
memet, dengan lukisan dua ekor naga pada gapura candi bentar, seperti
dinyatakan oleh Lembaga Research Islam dapat dijadikan pegangan
sementara, sebelum diketemukan sumber lain yang lebih kredibel atau shahih.
Dalam buku Sejarah Perjuangan Dakwah dan Da’wah Islamiyah Sunan Giri.
Lembaga itu menafsirkan dua naga tersebut dengan rumusan “naga roro
warnining sami” = 1428 Saka/1506 M. Merupakan hal wajar, karena dengan
demikian usia Sunan Giri dapat diperkirakan, yaitu sekitar 60-an tahun. Dalam
hal ini ada beberapa peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang juga
dilukiskan dengan gambar-gambar. Misalnya, relief pada pemandian Belahan dalam
bentuk bulan, pendeta dan rahu, kemudian ditafsirkan sebagai candra sangkala
wafatnya Airlangga pada 971 Sakan (1049 M).
Berdasarkan perbandingan antara bangunan-bangunan dan relief
dari kompleks Sunan Giri dan relief dari masa sebelum Islam, misalnya relief
gapura dari Trawulan (Bab IV. B.1), relief pada candi Jago (bab IV.B.3),
bangunan candi bentar Wringin Lawang, relief gunung padaa cungkup Sunan Giri
yang memiliki pola tidak jauh berbeda dengan relief gunung pada masjid Mantingan
(sekitar 1559), relief singa (kecil) diatas gawang pintu masuk makam Sunan
Prapen (asalnya dari cungkup Sunan Giri) diperkirakan tahun-tahun pembangunan
kompleks Giri, yaitu pada masa-masa terakhir jaman Hindhu (Majapahit) dan
permulaan jaman Islam di Jawa. Unsur-unsur seni dan budaya diatas oleh para
ahli dikatakan memiliki hubungan dan persamaan dengan kesenian Bali, yang juga
mewarisi tradisi seni-budaya Majapahit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhirnya sebagai penutup dapat disimpulkan
bahwa kompleks Sunan Giri sebagai suatu sisa peninggalan kuna dari permulaan
jaman islam di Jawa, ternyata tidak membawakan unsur-unsur baru. Yang dimaksud
dengan unsur-unsur baru dalam kebudayaan dalam hal ini ialah anasir budaya dari
negeri-negeri Islam di luar Indonesia. Dalam menerima dan mengembangkan budaya
Islam ternyata bangsa Indonesia mengubah unsur-unsur budaya dari jaman sebelum
Islam, diantaranya seni bangunan, relief dan strukurnya, baik unsur-unsur dari
bangunan prasejarah, maupun unsur-unsur seni budaya dari jaman Hindhu-Budha
sesuai dengan kepentingan umat Islam.
B. Saran
Kajian ini berusaha mengungkap cara
berfikir, merasa dan berkarya, khusus dalam kebudayaan dan kehidupan beragama,
serta menjelaskan makna simbolik kompleks Sunan Giri berdasarkan metode sejarah
sesuai dengan jiwa zamannya (geist-gebondenheit). Yaitu jiwa
jaman disaat bertemunya kebudayaan-kebudayaan Indonesia asli, Hindhu-Budha,
Islam dan Budaya Barat.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi perkembangan Ilmu Sejarah
pada umumnya, dan sejarah kebudayaan utamanya serta mendapat peninjauan lebih
lanjut demi menggali dan mengembangkan budaya dan kepribadian nasional
Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
Kasdi, Aminuddin. 2017. Kepurbakalaan
Sunan Giri. Surabaya :Unesa University
Press.
Emoticon